Mobil Grab dan Uber Boleh Pakai Pelat Hitam dan STNK Pribadi

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) menegaskan bahwa angkutan berbasis aplikasi, seperti Uber atau Grab, diperbolehkan memakai kendaraan berpelat nomor hitam. Syaratnya, pengemudi mesti tergabung dalam koperasi.

Selain itu Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) juga tidak diwajibkan untuk tertulis atas nama badan hukum. Cukup memakai STNK yang mencantumkan nama pemiliknya saja.

Penyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram dalam rapat pembahasan angkutan berbasis aplikasi pada Selasa (23/8/2016) lalu. Menurutnya, pernyataan mengenai STNK dan pelat hitam ini pun telah diterima sebagai kesimpulan rapat.

Selain Agus sebagai perwakilan Kementerian Koperasi dan UKM, rapat juga dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Pudji Hartanto Iskandar, serta pengelola angkutan berbasis aplikasi.

Lebih lanjut, Agus mengatakan, alasan membolehkan pelat hitam dan STNK pribadi adalah prinsip dasar dan model pengelolaan koperasi sebagai badan hukum. Koperasi punya tata cara yang berbeda dengan perseroan.

“Prinsip koperasi tegas menyebutkan pengguna adalah pemilik, dan pemilik adalah pengguna. Karena itu, pemilik taksi online yang tergabung dalam koperasi berarti juga pemilik koperasi, bukan pekerja,” jelas Agus melalui keterangan resmi yang diterima KompasTekno, Kamis (25/8/2016).

“Aset yang dimiliki anggota koperasi yang digunakan sebagai alat produksi tidak beralih menjadi aset perusahaan. Beda dengan supir taksi konvesional yang merupakan pekerja dari perusahaan,” lanjutnya.

“Jika taksi tersebut adalah mobil pribadi milik anggota koperasi, maka harus tetap ber-STNK pribadi,” demikian kata Agus.

Di sisi lain, bila kendaraan yang dipakai sebagai angkutan berbasis aplikasi adalah aset atau dimiliki oleh koperasi, maka harus memakai pelat kuning.

Jawaban dari unjuk rasa

Pernyataan Agus merupakan jawaban terhadap unjuk rasa yang dilakukan sejumlah pengemudi angkutan berbasis aplikasi pada minggu lalu. Unjuk rasa itu merupakan protes terhadap Peraturan Menteri Perhubungan nomor 32 tahun 2016 yang meminta pengemudi mencantumkan nama badan hukum dalam STNK-nya.

Baca: Ini Tuntutan Sopir Uber dan Grab

Agus juga menyarankan agar koperasi bekerja secara profesional dengan membuat AD/ART yang mengatur keselamatan dan keamanan jenis transportasi yang dikelolanya. Pemilik angkutan berbasis aplikasi juga mesti dibekali tanda pengenal anggota koperasi.

Selain soal STNK dan pelat, Agus mengatakan setuju saja dengan diberlakukannya syarat uji KIR dan SIM A Umum.

Menurutnya, hal itu menjadi kewenangan Kemenhub yang mengaturnya. Sedangkan, koperasi dapat saja memfasilitasi atau membantu pengurusuan SIM dan ujii KIR tersebut.

Baru Rilis Android 7.0 Nougat, Google Sudah Siapkan Penerus?

Google baru saja menyebar Android Nougat 7.0 untuk lini Nexus beberapa hari lalu. Kini, beredar kabar bahwa versi Android Nougat 7.1 sudah dalam tahap persiapan untuk dirilis.

Hal ini terendus lewat laporan crash dan Android Not Responding alias ANR di konsol khusus pengembang, sebagaimana dilaporkan AndroidAuthority dan dihimpun KompasTekno, Kamis (25/8/2016).

Pada laman tersebut, tertera pilihan Android 7.1 di antara pilihan versi Android lainnya. Jika penamaan versi itu sudah ada di konsol pengembang, besar kemungkinannya akan segera terealisasi.

Baca: Google Sebar Android Nougat, Ini Daftar Perangkat yang Kebagian

Diketahui, versi Marshmallow hanya mendapat pembaruan minor satu kali, yakni dari versi 6.0 ke 6.0.1. Peningkataan dari versi 7.0 ke 7.1 diharapkan membawa pembaruan yang lebih signifikan, utamanya dari segi performa dan keamanan.

Tersedianya penamaan versi 7.1 mengindikasikan keseriusan Google pada Android Nougat. Raksasa mesin pencari itu memang berjanji bakal lebih sering mengadakan update untuk sistem operasi teranyarnya.

Meski demikian, Google belum mau berkomentar soal rumor kehadiran 7.1 dalam waktu dekat. Yang jelas, 7.0 tengah dipersiapkan untuk hadir di perangkat berbasis Android lainnya.

Seperti biasa, lini Nexus adalah yang pertama kebagian jatah Android termutakhir. Selanjutnya, untuk ponsel yang benar-benar baru, Android Nougat bakal terpasang pertama kali pada flaghsip LG V20 yang dijadwalkan meluncur pada September mendatang.

Sedang Di-“charge”, Galaxy Note 7 Hangus Terbakar

Samsung baru saja mengirimkan smartphone terbarunya, Galaxy Note 7, kepada para pemesan di beberapa negara tertentu. Namun, siapa sangka, sudah terjadi satu kasus perangkat yang meledak.

Seorang netizen di China baru-baru ini mengunggah beberapa foto yang menunjukkan nasib tragis Samsung Galaxy Note 7 miliknya. Ponsel tersebut terlihat gosong dan sebagian besar casing belakangnya meleleh. Ia menceritakan, perangkat tersebut terbakar saat sedang di-charge.

Sekilas terlihat bekas ledakan di bagian tepi kiri ponsel tersebut. Melihat posisi ini, sebagaimana dilansir KompasTekno dari BGR, Kamis (25/8/2016), dapat disimpulkan bahwa baterai Samsung Galaxy Note 7 itu meledak.

Samsung Galaxy Note 7 sebenarnya merupakan produk seumur jagung dan belum ada kasus ledakan yang terdokumentasi. Orang-orang mungkin akan bertanya-tanya apa penyebabnya.

Penyebab pastinya sebenarnya belum diketahui. Samsung juga belum mengeluarkan pernyataan terkait masalah ini.

Menurut analisis dari BGR, kemungkinan Galaxy Note 7 itu meledak karena si netizen menggunakan aksesori pengisian daya dari pihak ketiga.
Phandroid
Bagian putih pada ujung kabel charger Samsung Galaxy Note 7 ini merupakan sambungan adapter Micro USB to USB tipe C
Salah satu foto yang diunggah memang menunjukkan bahwa sang netizen melakukan sedikit improvisasi saat men-charge Samsung Galaxy Note 7 tersebut.

Meski tampaknya menggunakan adapter Micro USB ke USB Type-C yang diberikan Samsung, tetapi kabel yang digunakan tampaknya merupakan aksesori dari pihak ketiga. Adapter yang dimaksud berwarna putih yang terpasang di ujung kabel pengisian daya.

Dalam kotak penjualan sendiri, Samsung memberikan kabel USB berwarna putih. Sedangkan, dari foto, diketahui kabel berwarna hitam.

Kasus ini sendiri tentunya belum tentu akan terjadi pada semua perangkat Galaxy Note 7. Namun, sebagai langkah pencegahan, ada baiknya Anda terus menggunakan aksesori orisinil dari Samsung.

Fitur Baru Ini Bakal Ubah YouTube seperti Facebook atau Twitter

Platform berbagi video YouTube sedang menyiapkan berbagai cara agar penggunanya betah berlama-lama. Salah satunya adalah membuatnya lebih interaktif layaknya media sosial.

Untuk itu, YouTube sedang menyiapkan fitur yang diberi nama Backstage. Layaknya di belakang panggung, pengguna YouTube bisa lebih bebas berekspresi di sana. Seperti berbagi foto, membuat polling, berbagi tautan, posting komentar, dan video dengan para subscriber.

Dikutip KompasTekno dari Venture Beat, Kamis (25/8/2016), fitur Backstage direncanakan akan dirilis pada akhir tahun 2016 ini, baik di platform mobile maupun desktop.

Untuk tahap awal, hanya beberapa pengguna YouTube terpilih saja yang bisa mencicipinya, kemungkinan adalah akun-akun yang telah memiliki nama atau reputasi tinggi di YouTube.

Tampilan ala medsos

Lalu, bagaimana tampilan YouTube Backstage ini? Sama seperti timeline Facebook atau Twitter, YouTube akan menambah timeline tersebut di samping tab Home dan Video di kanal YouTube.

Postingan yang dibuat di Backstage akan muncul dalam timeline para subscriber. Postingan tersebut juga akan memiliki notifikasi, sehingga bakal terlihat oleh fans.

Selain menambah pengalaman baru berinteraksi, Backstage juga menambah kemungkinan video bisa dilihat lebih banyak lagi.

Pasalnya, pengguna juga bisa memilih untuk berbagi video YouTube di Backstage atau video yang hanya khusus bisa dilihat di linimasa Backstage saja.

Dengan demikian, video yang dibagi di Bakcstage saja akan membangun komunikasi yang lebih personal dan intim dengan para fans YouTuber.

Postingan di Backstage menurut kabar juga bakal bisa dibagikan di berbagai jejaring sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter.

Backstage bakal menjadi perubahan besar di YouTube, yang selama ini hanya fokus di konten video saja. Langkah ini juga menjadi penawar setelah YouTube gagal mengintegrasikan layanannya dengan Google Plus.

Android Lenovo Akan Dipasangi Aplikasi Microsoft

Vendor smartphone Lenovo akan memasang aplikasi-aplikasi produktivitas Microsoft di ponsel-ponsel Android tertentu buatannya.

Aplikasi-aplikasi yang dimaksud dikutip KompasTekno dari TelecomAsia, Kamis (25/8/2016) adalah Microsoft Office, OneDrive, dan Skype.

“Microsoft sangat gembira aplikasi-aplikasi produktivitasnya akan dipasang (pre-installed) di ponsel premium Lenovo,” kata Nick Parker, Corporate Vice President OEM Division, Microsoft.

Kerja sama tersebut diharapkan bisa memperluas pengguna aplikasi Microsoft di Android, serta meningkatkan produktivitas pengguna smartphone Android Lenovo.

Sementara Christian Eigen, Leader of Corporate Alliances Lenovo mengatakan, “Kolaborasi dengan Microsoft membuka peluang baru pengguna kami memanfaatkan aplikasi Microsoft.”

“Memasang aplikasi dan layanan Microsoft di peranti kami akan menambah value bagi konsumen kami di seluruh dunia,” imbuhnya.

Baca: Microsoft Office Resmi Sambangi Smartphone Android

Lenovo berencana mengapalkan jutaan smartphone Android yang dipasangi aplikasi Microsoft dalam beberapa tahun ke depan.

Kolaborasi keduanya juga menyertakan persetujuan lisensi hak paten di antara keduanya untuk ponsel-ponsel Lenovo dan Motorola.

Kerja Itu Bukan Cuma Spanduk Lho!

Presiden Jokowi menamakan kabinetnya sebagai Kabinet Kerja. Untuk ulang tahun kemerdekaan ke-71, slogan yang muncul di berbagai spanduk di instansi pemerintah adalah: Kerja Nyata!

Soal spanduk itu, sebenarnya agak membuat berpikir sih. Kenapa semua sibuk menampilkan spanduk dengan tulisan Kerja Nyata, ya? Bukankah, kalau memang sudah melakukan kerja yang nyata, nggak butuh lagi spanduk?

Ah, sudahlah. Di sisi lain, sepertinya ini saat yang tepat untuk kembali berpikir (dan menulis) soal kerja. Tentunya, dalam lingkup kolom ini adalah kerja yang terkait dengan teknologi, startup dan dunia digital.

Soal kerja ini memang agak pelik dan, untuk beberapa orang, sensitif. Kenapa? Coba bayangkan saat baru lulus kuliah kemudian datang ke kumpul keluarga atau halal bi halal Lebaran, apa pertanyaan yang muncul ketika berjumpa handai taulan, sanak saudara dan para kerabat?

“Kerja di mana?”

Syukur kalau sudah dapat kerjaan. Nah, kalau belum. Kadang rasanya ingin mengubur diri dengan kue nastar atau lompat ke kolam sirup rasa jeruk saja kan?

Untungnya, sekarang ada berbagai alternatif pekerjaan yang bisa dilempar ke muka orang yang bertanya tadi.

Misalnya: “Aku sekarang bikin startup Om, ya siapa tahu bisa jadi kayak Mark Zuckerberg, atau minimal kayak Nadiem Makarim laah!”

Abaikan dulu bahwa ada kemungkinan yang diajak bicara tidak paham soal startup itu apa. Paling tidak, bisa membuat orang itu buru-buru mengambil kastengel agar punya alasan untuk tidak berkomentar.

Tapi, serius nih, sudahkah kita benar-benar mempertimbangkan apa saja opsi karir selain melemparkan surat lamaran ke dalam amplop coklat lalu berdoa tujuh kali sehari?

Cari dulu tujuannya

Sesungguhnya, di zaman serba digital ini, terbuka banyak pilihan pekerjaan atau karir yang bisa diambil. Sebut saja kerja lepasan alias freelance, hingga yang itu tadi: membuat startup sendiri.

Tentu saja, semua ada pertimbangannya. Baik-buruknya harus dilihat dengan jernih dulu. Tanyakan ini dulu: apa sih tujuan sesungguhnya kita bekerja?

Dalam sebuah diskusi bersama Student Job Indonesia dan Kelas Muda Demokrasi Digital, pertanyaan itu coba saya lontarkan. Jawaban yang muncul hampir seragam: kita bekerja untuk mendapatkan gaji.

Betul, gaji memang penting. Memiliki gaji artinya bisa bayar utang di warung pecel ayam yang sudah bertahun-tahun ditagih; atau bisa disimpan untuk beli Macbook; atau bahkan ditabung untuk modal nikah!

Masalahnya, gaji itu kadang misterius. Baru masuk di rekening bank, besoknya sudah nggak ada lagi. Habis tak bersisa, kecuali debu dan remah-remah belaka.

Barry Schwartz, dalam sebuah TED Talk, menuturkan soal gaji itu seperti ini: “Ya, kita tak akan kerja kalau tidak digaji, tapi itu bukan alasan kita melakukan apa pun yang kita lakukan. Bahkan, umumnya kita menganggap melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan uang adalah alasan yang buruk.”

Soal tujuan (bahasa kerennya purpose) itu memang jadi penting. Karena kalau tidak jelas purpose-nya, kerja jadi lesu dan tak bersemangat. Kerja sekadar isi waktu, menunggu tanggal gajian.

Apalagi kalau bikin startup. Purpose-nya harus lebih jelas daripada jadi karyawan. Ini karena, menurut kabar kabur yang berseliweran di mana-mana, 90 persen startup bakal gagal.

Nah, kalau kita akan melakukan sesuatu yang kemungkinan gagalnya sangat besar, kenapa harus memilih untuk melakukan sesuatu yang tidak jelas tujuannya?

Ngantor di mana?

Jika mau mencoba karir model baru, misalnya bekerja sebagai tenaga lepasan sambil coba-coba merintis usaha sendiri, ada satu lagi pertanyaan yang muncul: mau bekerja dari mana?

Jawabannya bisa beragam, mulai dari kamar kos, rumah atau bahkan cafe dan restoran. Tapi, jangan pernah lupakan bahwa sekarang makin banyak yang namanya coworking space.

Ini adalah sebuah tempat kerja yang jauh dari kesan konvensional. Ini bukan susunan kubikel-kubikel yang kadang begitu memenjara tapi kadang memeluk nyaman. Ini adalah tempat bekerja gaya baru.

Bukan sekadar tempat, coworking space adalah ruang kolaborasi. Ongky Saptari, Co-founder Co&Co, sebuah coworking space di Bandung, mengatakannya dengan sangat puitis: sebuah coworking space adalah tempat yang memungkinkan terjadinya serendipity.

KOMPAS.com/Caroline Damanik
Suasana ACMI X, sebuah co-working space atau ruang kerja di Melbourne, Victoria, Australia. Para pebisnis dan pelaku industri kreatif yang baru merintis start-up tak perlu mengeluarkan modal besar untuk menyewa kantor atau tempat kerja karena mereka bisa berbagi ruang kerja di tempat ini.
Serendipity adalah kejutan yang menyenangkan, sebuah peristiwa asyik yang terjadi tanpa direncanakan.

Hal itu karena coworking space adalah melting pot, tempat orang dari bidang yang berbeda bisa bertemu, berbagi dan bahkan berkolaborasi. Di tempat seperti ini, peluang-peluang baru bisa bermunculan.

Adanya coworking space dan jenis pekerjaan yang tidak terlalu membelenggu telah melahirkan golongan baru di masyarakat pekerja. Mereka adalah para digital nomads, orang-orang yang bekerja dan tinggal di mana ia mau.

Mereka bebas memilih untuk bekerja di kota-kota dengan pantai yang indah atau memilih “kantor” dengan pemandangan gunung yang sejuk.

Mereka bisa bekerja sambil menjelajah dunia. Bekerja sambil mengenal berbagai budaya dan orang dari berbagai belahan bumi.

Atau, bisa saja mereka sekadar memilih untuk bekerja di wilayah yang dekat dengan rumah, keluarga dan sekolah anak.

Dua WN China Selundupkan 72 iPhone ke Wamena

Dua warga negara China diamankan oleh petugas keamanan Bandara Klas I Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (24/8/2016) pada pukul 08.30 WIT karena kedapatan membawa iPhone yang diduga palsu.

Liu Fei dan Li Dong Ping ditangkap saat melewati alat X-Ray di bandara Sentani. Petugas keamanan menemukan 72 unit iPhone yang diduga palsu dan delapan unit laptop.

Menurut pengakuan keduanya, iPhone-iPhone selundupan itu hanya sebagian kecil saja. Mereka mengaku berencana membawa iphone lebih banyak lagi, yakni 300 unit dari Jakarta ke salah satu toko ponsel di Wamena.

Kapolsek Bandara Sentani, Iptu Wilson Latuasan ketika dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (24/8/2016) membenarkan adanya penangkapan dua WNA China tersebut.

“Diduga kedua WNA ini hendak menjual puluhan telepon seluler itu di Wamena. Karena itu, pihak imigrasi Jayapura sedang memeriksa salah satu dari mereka untuk mengecek apakah sesuai dengan visa kunjungan ke Indonesia,” kata Wilson.

Rencananya, kedua WNA China itu akan membawa puluhan iPhone dan laptop ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dengan menggunakan pesawat Wings Air.

Li Dong Ping dibawa ke kantor imigrasi Jayapura untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Sementara Liu Fei menghilang setelah mengelabui petugas dengan cara meminta izin untuk meninggalkan pos untuk melapor ke maskapai penerbangan.