Month: October 2016

Samsung Rilis Z2, “Smartphone” Tizen Rp 900.000-an

Samsung resmi merilis smartphone terbarunya bernama Z2 di India. Perangkat yang satu ini dapat dikatakan cukup unik karena tidak berbasiskan Android, tetapi Tizen.

Z2 sendiri merupakan smartphone ketiga Samsung yang dibekali dengan sistem operasi mobile tersebut.

Samsung memosisikan Z2 dalam kelas low-end. Hal tersebut terlihat dari banderol harga yang relatif murah, yakni 4.590 rupee atau sekitar Rp 926.000.

Secara spesifikasi, ponsel ini lebih bagus dibanding seri Z1 yang lebih dulu meluncur. Namun, tidak lebih baik dibandingkan Z3, yang juga sudah lebih dulu dirilis.

Dilansir KompasTekno dari SamMobile, Rabu (24/8/2016), raksasa teknologi Korea Selatan itu membekali Z2 dengan layar ukuran 3,97 inci, prosesor quad-core Spreadtrum, dan RAM 1 GB. Memori internalnya berkapasitas 8 GB dan dapat diperluas menggunakan kartu memori microSD.

Soal pengabadian gambar, Samsung Z2 memakai kamera utama 5 megapiksel dan kamera depan VGA. Semua spesifikasi tersebut menjalankan sistem operasi Tizen 2.4 dan memakai tenaga dari baterai berkapasitas 1.500 mAh.

Meski tidak dibekali spesifikasi yangg terlalu mentereng, Samsung Z2 sudah mendukung jaringan 4G LTE.

Ponsel Samsung Z2 ini sementara waktu hanya beredar di India dan ditujukan pada pengguna kelas pemula. Belum diketahui apakah Samsung memiliki rencana untuk menghadirkannya di negara lain.

Sekadar diketahui, Tizen merupakan sistem operasi berbasis Linux. Proyek pengembangan Tizen dilakukan antara lain oleh Linux Foundation, Samsung, Intel, dan Technical Steering Group.

Selain ponsel seri Z di atas, Samsung juga telah memasang sistem operasi Tizen pada berbagai perangkat lain, di antaranya Samsung Galaxy Camera dan Gear.

Advertisements

Fujifilm X-T10 Laris di Indonesia berkat Rangga

Alkisah, setelah 12 tahun tidak bersua, Rangga kembali bertemu dengan kekasih lamanya, Cinta. Rangga yang berprofesi sebagai jurnalis di New York, Amerika Serikat, telihat memotret dengan kamera berdesain retro.

Potongan adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta (AAdC 2) yang dirils pada akhir April 2016 lalu itu ternyata efektif mendongkrak kamera yang bersangkutan, yakni mirrorless X-T10 besutan Fujifilm. Setidaknya demikianlah menurut penuturan Sales Manager Photo Imaging Division Fujifilm Indonesia, Wawan Setiawan.

“Popularitas X-T10 terdongkrak setelah dipakai Rangga dalam film AAdC 2 itu, hingga sekarang menjadi produk kamera Fujifilm nomor dua paling laku setelah X-A2 (di Indonesia),” kata Wawan saat mendampingi Kompas Tekno bersama rombongan jurnalis dan fotografer di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (24/8/2016).

Baca: X-T1, Kamera Retro Tahan Cuaca dari Fujifilm

X-T10 mencatat penjualan tertinggi kedua di Indonesia -dari segi volume- walau harganya tidak murah. X-T10 dibanderol di kisaran Rp 11,8 juta untuk versi body only, belum termasuk lensa.

Fujifilm
Fujifiml X-T10
Adapun X-A2 yang menduduki urutan pertama soal penjualan kamera mirrorless Fujifilm, merupakan model entry level dengan harga lebih murah di angka Rp 8 juta, sudah termasuk lensa kit 16-50 mm f/3,5-5,6.

“Kalau untuk kontribusi terbesar dari segi value, yang nomor satu adalah (kamera mirrorless high-end) X-Pro2”, imbuh wawan.

Sebagai salah satu andalan Fujifilm di segmen pasar menengah, X-T10 dibekali fitur lengkap, termasuk sensor 16 megapiksel X-T10, Electronic Viewfinder 2,36 megapiksel, tilting LCD, rangkaian simulasi film ala Fujifilm, kemampuan merekam video hingga resolusi 1920 x 1080 60 FPS, dan Wi-Fi untuk koneksi ke smartphone atau gadget lain.

Fujifilm bukan satu-satunya merek yang melakukan endorsement lewat film AAdC 2. Terdapat juga nama-nama lain dari industri berbeda seperti Lenovo, Line, Aqua, Garuda Indonesia, L
‘Oreal, Mitsubishi, dan Wall’s.

Edit Foto di Prisma Versi iOS Tak Butuh Internet

Mengedit foto dengan aplikasi Prisma, baik di Android maupun iOS, selama ini membutuhkan koneksi internet. Hal tersebut kerap memperlambat proses pengeditan karena bergantung kepada stabilitas jaringan.

Ke depan, pengguna iOS tak perlu lagi merasakan ketidaknyamanan itu. Mereka bisa memodifikasi foto menjadi karya seni bercita rasa tinggi di Prisma dalam keadaan offline.

Hal ini dimungkinkan jaringan saraf tiruan alias neural networks, sebagaimana dilaporkan VentureBeat dan dihimpun KompasTekno, Rabu (24/8/2016).

Jarigan tersebut diambil dari sekelompok pemrosesan kecil yang dimodelkan berdasarkan jaringan saraf manusia. Sistemnya adaptif sehingga dapat cepat mengubah suatu struktur.

Baca: Mengapa Edit Foto di Prisma Lama dan Over Capacity?

Neural networks itu juga menjadi dasar implementasi kecerdasan buatan alias artificial intelligence. Prisma mengindikasikan neural networks bakal menjadi basis aplikasi-aplikasi masa depan.

“Teknologi itu juga bekerja sangat baik untuk audio, tapi sekarang kami fokus pada apa yang kami lakukan dari awal (visual),” kata co-founder dan CEO Prisma, Alexey Moiseenkov.

Sejak diluncurkan pada 11 Juni lalu, Prisma telah diunduh sebanyak 50 juta kali. Versi pembaruan Prisma di iOS ini digadang-gadang sebagai langkah awal merealisasikan filter-filter Prisma di video dan realitas virtual.

Belum diumbar kapan kemampuan pengeditan tanpa internet ini bisa dinikmati pengguna Android. Yang jelas, Prisma mengatakan pembubuhan satu filter di Prisma iOS kini cuma memakan waktu sekitar tiga detik.

Fujifilm Hanya Butuh 5 Tahun untuk Kuasai Pasar “Mirrorless” Indonesia

Fujifilm mulai memasuki pasaran mirrorless dunia -termasuk Indonesia- pada 2011 lewat produk-produk high-end kamera X100 yang memadukan lensa fixed 23mm f/2.0 dengan sensor APS-C.

Awal 2012 pabrikan ini baru mulai merilis mirrorless dengan interchangeable lens (lensa bisa diganti-ganti) yang diawali kamera X-Pro1.

Sebagai pemain yang relatif baru, Fujifilm pun menduduki posisi bontot. “Kala itu, tahun 2011-2012, kami bahkan tak masuk 10 besar pabrikan kamera di Indonesia,” tutur Electronics Imaging Sales Manager Fujifilm Indonesia, Wawan Setiawan, kepada KompasTekno saat ditemui di sela-sela acara photo trip Fujifilm ke Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (24/8/2016).

Tapi kini keadaan tersebut sudah berubah. Hanya dalam tempo 5 tahun, didukung produk-produk lanjutan yang lebih disempurnakan dan kampanye pemasaran agresif, Fujifilm kini berhasil menduduki peringkat pertama di pasaran kamera mirrorles Indonesia.

“Menurut data lembaga riset GFK untuk kuartal pertama 2016, kami berada di urutan teratas dengan pangsa pasar 42 persen,” jelas Wawan. Setelah Fujifilm, pabrikan mirrorless terbesar kedua di Indonesia adalah Sony dengan penguasaan 39 persen.

Update: Berdasarkan informasi terbaru yang diterima redaksi, Fujifilm menduduki peringkat pertama pabrikan kamera mirrorless terbesar di Indonesia pada Juli 2016 dengan pangsa 34,1 persen, menurut data dari firma riset pasar GFK. Berbeda dengan penuturan di atas kepada KompasTekno.

Pabrikan lain seperti Panasonic dan Olympus yang mempelopori kamera mirrorless justru baru muncul di urutan-urutan setelahnya.

Fujifilm kini telah memiliki lini produk kamera mirrorless yang menduduki beragam segmen harga.

Di entry level ada X-A2 dengan harga kisaran Rp 8 juta termasuk lensa kit. Di papan tengah ada Fuji X-E2S dan X-T10, masing-masing dengan banderol Rp 9,8 juta dan Rp 11,8 juta (body only).

Di segmen atas, ada X-Pro2 (Rp 23 juta) dan X-T2 yang baru akan memasuki pasar Indonesia pada akhir September mendatang dengan banderol sekitar Rp 21 juta.

Ada juga produk-produk lain yang masuk kategori berbeda, seperti X30 (premium compact) dan X100T (mirrorless, fixed lens).

Wawan menjelaskan, penjualan kamera mirrorless Fujifilm di Indonesia kini telah menduduki posisi kedua terbesar di kawasan Asia Pasifik, hanya kalah dari Thailand dan sudah lebih tinggi dibanding Singapura.

Menkominfo Diminta Pelan-pelan Tangani Keberatan Tarif Interkoneksi

Wakil Ketua Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Meutya Hafidz menyarankan agar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan penghitungan tarif interkoneksi. Bila perlu, ada baiknya mengumpulkan seluruh operator untuk berdiskusi.

“Pak Rudiantara sebaiknya pelan-pelan saja, kalau ada keberatan itu jangan diabaikan. Coba dibicarakan dulu,” ujar Meutya saat ditemui di sela sidang Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi 1 DPR dengan Menkominfo di Gedung DPR, Rabu (24/8/2016).

Menurut Meutya, upaya Rudiantara menurunkan tarif telekomunikasi yang mesti dibayarkan pelanggan adalah hal yang bagus dan patut didukung. Namun, dengan adanya keberatan dan potensi keputusan itu mempengaruhi pendapatan operator milik BUMN, yaitu Telkomsel, maka sebaiknya dipertimbangkan lagi.

“Bukankah ada juga cara lain, tidak berarti harus melalui tarif interkoneksi? Menurut saya sekarang perlu dikaji juga keberatannya Telkomsel, karena kan bisa berpengaruh juga ke penurunan pendapatan negara. Saya inginnya sih minta operator duduk bareng dulu,” pungkasnya.

Baca: Telkomsel Minta Penghitungan Tarif Interkoneksi yang Adil

Anggota Komisi 1 DPR dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Effendi Simbolon menyuarakan pendapat yang serupa. Menurutnya lebih baik jika mengundang dan mengajak diskusi seluruh pihak yang terlibat, yaitu Menkominfo, operator yang pro dan operator yang kontra.

“Saran saya, ada baiknya kalau kita ingin mengelaborasi ini (interkoneksi), hadirkan saja seluruh pihak terkait. Tak perlu mengundang ahli. Cukup menteri sebagai pemerintah, kemudian operator yang pro dan kontra saja. Kita dudukkan bersama,” kata Effendi.

Lebih lanjut, Effendi mengatakan sebaiknya DPR tidak terjebak dengan urusan korporasi karena interkoneksi bukan ranah mereka.

“Ranah kita itu kinerja menteri, tapi kalau perlu membahas ini ya kita bentuk Panja saja,” terangnya.

Untuk diketahui, tarif interkoneksi merupakan biaya yang mesti dikeluarkan operator saat pengguna layanan komunikasinya menghubungi operator lain, baik berupa panggilan atau pesan singkat.

Baca: Kemenkominfo Tetapkan Tarif Interkoneksi Baru

Sebelumnya, Kemenkominfo mengeluarkan keputusan terkait perhitungan penurunan tarif interkoneksi. Penurunan tarif interkoneksi rata-rata 26 persen untuk 18 skema panggilan dan akan berlaku pada 1 September 2016.

Salah satu operator yang keberatan terhadap penurunan tarif interkoneksi tersebut adalah Telkomsel. Mereka berharap perhitungan mengenai penurunan tarif interkoneksi itu dilakukan dengan lebih adil.

Ada Konsultan Pertarungan di “Pokemon Go” Baru

Niantic membuktikan janjinya dengan merilis pembaruan game Pokemon Go secara berkala. Baru-baru ini, perusahaan yang didirikan oleh John Hanke itu merilis versi 0.35.00 untuk versi Android dan 1.5.0 untuk iOS.

Ada fitur baru yang dihadirkan dalam pembaruan tersebut. Fitur tersebut dinamakan dengan Pokemon Appraisal atau penilaian Pokemon, jika diterjemahkan secara harfiah.

Nantinya, pemain bisa menggunakan fitur tersebut untuk memelajari atau mendengarkan nasihat mengenai kemampuan Attack (serangan) dan Defense (pertahanan) yang dimiliki monster pokemon.

Saran tersebut nantinya bakal diberikan langsung oleh Team Leader masing-masing tim, layaknya seorang konsultan pertarungan.

Sebagaimana KompasTekno rangkum dari Gamespot, Rabu (24/8/2016), hal tersebut mengindikasikan, fitur Appraisal hanya bisa digunakan oleh pemain yang telah mencapai level 5.

Pasalnya, di level tersebut pemain baru bisa memilih untuk bergabung ke satu dari tiga tim yang tersedia, yakni Mystic, Valour, atau Instinct.

Baca: Niantic Ungkap Nama Pemimpin Tim Pokemon Go

Gamespot
Fitur Appraisal di Pokemon Go

Fitur tersebut dapat ditemukan dengan menekan icon berbentuk Pokeball di Menu utama, kemudian pilih menu “Pokemon”.

Setelah itu, pilih monster yang ingin dinilai, dilanjutkan dengan memilih tombol menu tiga garis (kanan bawah layar), dan klik “Appraise”.

Setelah itu, akan muncul gambar masing-masing leader dengan penilaian masing-masing.

Fitur ini sendiri berguna bagi pemain yang ingin mentransfer atau meng-evolve monster. Jika pemimpin berkata bahwa monster yang ingin dievolusi tidak memiliki kemampuan Attack dan Defense yang baik, sebaiknya jangan evolve yang satu ini.

Sebaliknya, jika monster dikatakan memiliki kemampuan yang baik, evolve saja monster tersebut.

Pemimpin tim juga akan memberikan saran, apakah monster yang sedang dinilai cocok untuk bertarung di gym atau tidak.

Selain fitur tersebut, Niantic juga memperbaiki beberapa bug yang ada di versi sebelumnya. Untuk mendapatkan pembaruan tersebut, kunjungi tautan berikut untuk versi Android dan tautan berikut ini untuk versi iOS.