Month: December 2016

Soal Demo Sopir Uber dan Grab, Ini Tanggapan Kemenhub

Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Pudji Hartanto Iskandar, angkat bicara soal unjuk rasa sopir Uber dan Grab yang terjadi Senin (22/8/2016) lalu.

Para pedemo menuntut pemerintah merevisi Peraturan Menteri (Permen) No 32 Tahun 2016. Alasannya, peraturan tersebut dianggap sebagai titipan para pengusaha.

Baca: Ini Tuntutan Sopir Uber dan Grab

Mewakili Kemenhub, Pudji menolak tudingan tersebut. Ia menjawab bahwa Permen yang dimaksud justru dikeluarkan demi melindungi seluruh pemangku kepentingan.

“Tidak benar Permen itu merupakan titipan. Tujuannya justru utuk melindungi penumpang sekaligus pengemudi,” tuturnya saat dihubungi KompasTekno, Selasa (23/8/2016).

Pudji menjelaskan, demi jaminan perlindungan tersebut, Permenhub No 32 tahun 2016 meminta pengemudi angkutan berbasis aplikasi untuk memenuhi sejumlah unsur.

Antara lain uji KIR, memiliki SIM A Umum, STNK atas nama perusahaan atau koperasi, memiliki pool, dan bekerja sama dengan bengkel untuk urusan perawatan kendaraan.

“Uji KIR ini harus, karena untuk aspek keselamatan. Sim A Umum karena pengemudi bertanggung jawab saat membawa penumpang dan berbayar, harus lebih terampil dan plat nomor tetap hitam, supaya privasi tidak terganggu,” jelasnya.

“Jika tidak memiliki pool, yang penting memiliki garasi. Sedangkan untuk perawatan kendaraan bisa kerja sama dengan bengkel,” imbuhnya.

Pudji menambahkan, sebelum 1 Oktober tahun ini, Kementerian akan melakukan kegiatan sosialisasi. Selama masa sosialisasi Dinas Perhubungan DKI Jakarta hanya akan memberi teguran, tidak melakukan tindakan hukum.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Hemi Pramuraharjo menambahkan, para pengemudi angkutan berbasis aplikasi diberi toleransi hingga satu tahun untuk mengubah STNK mereka menjadi atas nama PT atau koperasi.

“(Pengemudi) dikasih toleransi sampai 1 Oktober 2017 untuk mengubah STNK atas nama Badan Hukum,” pungkasnya.

Opera Rilis Aplikasi Pembuka Situs Apa Saja di Android

Opera akhirnya merilis aplikasi virtual private network (VPN) gratis buatannya untuk sistem operasi Android di Indonesia.

Dengan demikian, pengguna Android bisa memakai Opera VPN untuk membuka situs apapun tanpa terhalang oleh pemblokiran yang berlaku di sebuah negara. Aplikasi ini juga menjamin privasi penggunanya karena otomatis menghapus cookies saat dioperasikan.

Hal menarik lainnya, aplikasi Opera VPN ini bisa dipakai oleh peramban apa pun dan tanpa harus mengeluarkan biaya. Pengguna cukup memasang dan menyalakannya begitu saja.

“Aplikasi Opera VPN untuk Android berbeda dari aplikasi VPN lain dengan menawarkan layanan gratis, tanpa batas penggunaan data, log-in, memiliki fitur perlindungan Wi-Fi canggih, dan tanpa perlu berlangganan,” ujar President of SurfEasy, Divisi VPN Opera, Chris Houston dalam keterangan resminya pada KompasTekno, Selasa (23/8/2016).

Sebelumnya, pada Juni lalu, Opera telah lebih dulu merilis aplikasi serupa untuk perangkat genggam bersistem operasi iOS. Fitur yang ditawarkan pun sama persis dengan versi Android ini.

Opera VPN memiliki sejumlah pilihan bahasa yang terbatas, yaitu Indonesia, Inggris, Arab, Perancis, Jerman, Portugis, Rusia, dan Spanyol.

Kemudian, pengguna bisa memilih salah satu dari lima server yang tersedia, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Singapura, dan Spanyol.

Sekadar diketahui, VPN adalah sebuah jaringan yang dapat dihubungkan ke perangkat seseorang melalui internet. Intinya, saat berada di sebuah negara, pengguna bisa mengoperasikan perangkatnya seperti seakan-akan berada di negara lain.

Efeknya, pengguna dapat mengakses lebih banyak konten karena tak perlu takut dengan pemblokiran akses ke situs tertentu yang ditetapkan suatu negara.

Klik di sini untuk memasang Opera VPN ke perangkat Android Anda.

Berapa Harga Kamera Fujifilm X-T2 di Indonesia?

Menjelang akhir September mendatang, Fujifilm berencana mulai memasarkan kamera mirrorless terbarunya, X-T2, di pasaran Indonesia. Waktu tersebut berdekatan dengan rilis global yang juga dijadwalkan pada September.

Berapa harga Fujifilm X-T2 di Indonesia nantinya? Research and Development Manager PT Fujifilm Indonesia Takashi Miyako mengaku belum bisa mengungkapkan angkanya, tapi dia memberi ancang-ancang.

“Mungkin nanti akan sedikit lebih mahal dibandingkan X-T1,” ujar Miyako saat ditemui KompasTekno di Bandara Ngurah Rai, Bali, Selasa (23/8/2016). X-T1 adalah kamera generasi sebelumnya yang merupakan pendahulu X-T2.

Pada saat memperkenalkan X-T2 pada Juli lalu, Fujifilm mematok harga sebesar 1.600 dollar AS (sekitar Rp 21 juta) untuk versi body only di pasaran internasional. Di Indonesia, Miyako mengatakan pihaknya berencana mengikuti harga tersebut.

Sebagai perbandingan, saat ini kamera terdahulu, X-T1, dijual dengan harga Rp 16 juta untuk versi body only. X-T2 menawarkan sejumlah peningkatan dibanding X-T1 meski bentuk tubuh keduanya relatif mirip.

Fujifilm, misalnya, menambahkan joystick khusus pada X-T2 untuk memilih AF point yang aktif. Cara kerjanya sama dengan joystick serupa pada DSLR kelas profesional. X-T2 juga memiliki flip screen baru yang bisa ditekuk dalam orientasi portrait selain landscape.

“Jeroannya” turut dirombak. X-T2 kini memiliki sensor X-Trans generasi teranyar dengan resolusi 24 megapiksel. X-T2 juga menjadi kamera mirrorless pertama dari Fujifilm yang memiliki kemampuan merekam video 4K.

Ketika X-T2 sudah memasuki pasaran nanti, Fujifilm berencana mempertahankan X-T1 di pasaran dalam waktu terbatas. “Akan kami jual berdampingan (X-T1 dan X-T2) selama sekitar 1 atau 2 bulan,” kata Miyako.

“Startup” Indonesia Wakili Asia Tenggara di Kompetisi Dunia

Ahlijasa terpilih sebagai perwakilan Asia Tenggara di ajang “Startup Worldcup” yang akan digelar pada 24 Maret 2017 mendatang di Silicon Valley, Amerika Serikat. Di ajang global tersebut, Ahlijasa akan bertemu perusahaan rintisan digital terbaik lainnya dari seluruh dunia.

“Ini adalah kejuaraan global pertama kami, semoga bisa memberikan yang terbaik,” kata CEO Ahlijasa, Jay Jayawijayaningtiyas, pasca terpilih sebagai pemenang “Startup Worldcup” regional Asia Tenggara di atas panggung acara grand final di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (23/8/2016).

Ahlijasa sendiri terpilih dari rentetan seleksi sejak 21 Juni lalu. Ada sekitar 800 startup yang disisihkan Ahlijasa untuk melangkah ke kompetisi dunia.

Tahap terakhir, Ahlijasa bersanding dengan sembilan startup terbaik lainnya dari Indonesia, Singapura, dan Filipina. Mereka adalah U-HOP, Qlue, Pro Sehat, Kashmi, Talenta, Recomn, Klikdaily, Kioson, dan Taralite.

Ahlijasa sendiri merupakan layanan serupa Uber, tetapi untuk jasa rumah tangga. Visi Ahlijasa adalah memanfaatkan teknologi dan proses operasional pintar untuk mengatur industri jasa rumah tangga di Indonesia, seperti laundry.

Kemenangan Ahlijasa ditentukan oleh juri-juri yang mumpuni di industri ekonomi kreatif. Beberapa di antara mereka adalah Managing Partner 500 Startups Khailee Ng; CFO dan co-founder Go-Jek Kevin Aluwi; co-founder dan Managing Partner Northstar Group Patrick Walujo; dan Associate Global Founders Capital, Leon Herman.

Kerja sama Bekraf dan Fenox VC

Startup Worldcup sendiri baru pertama kali diadakan oleh perusahaan modal ventura asal Silicon Valley, Fenox VC. Untuk mencari perwakilan Asia Tenggara, Fenox VC bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Selain Ahlijasa, ada tiga startup daerah yang bakal turut ke Silicon Valley. Mereka mendapat wild card, yakni akses sebagai peserta acara Startup Worldcup, bukan peserta lomba.

Tiga startup itu dicari oleh Bekraf dan Fenox VC melalui proses roadshow ke enam daerah, yakni Yogyakarta, Balikpapan, Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar. Ketiganya adalah Azzam Trade, Paprika, dan Ojesy.

“Mereka diharapkan bisa mempelajari cara kerja para startup kelas dunia,” kata Deputi II Bidang Akses Pemodalan Bekraf, Fadjar Hutomo, pada kesempatan yang sama.