Xiaomi Mulai Sebar MIUI 8, Ini Perangkat yang Kebagian

Xiaomi mulai menyebar software antarmuka MIUI 8 ke beberapa lini smartphone buatannya, Rabu (24/8/2016). Distribusi ini sudah ditunggu-tunggu sejak MIUI 8 pertama kali diperkenalkan pada Mei lalu.

Beberapa perangkat Xiaomi yang kebagian jatah awal adalah Redmi Note yang berjaringan 3G dan 4G, Mi 4i, Redmi 1s, Mi 2, dan Mi 2s. Distribusinya dilakukan secara perlahan.

Untuk penyebaran ini, Mi 4i menjadi “anak emas”. Xiaomi menargetkan semua lini Mi 4i sudah bisa menikmati MIUI 8 per 25 Agustus besok.

Selain lini-lini di atas, MIUI 8 juga akan diboyong ke model-model lainnya. Hanya saja proses distribusinya bakal lebih lama, sebagaimana dilaporkan PhoneArena dan dihimpun KompasTekno, Rabu (24/8/2016).

Secara keseluruhan, berikut daftar perangkat keluaran Xiaomi yang bakal mendapat MIUI 8.

– Mi Max
– Mi Note
– Mi 5
– Mi 4
– Mi 4i
– Mi 3
– Mi 2
– Redmi Note Prime
– Redmi Note 3
– Redmi Note 2
– Redmi Note
– Redmi 2 Prime
– Redmi 2
– Redmi 1s

Xiaomi belum mengumbar secara spesifik apakah MIUI 8 berbasis Android Marshmallow, Nougat, atau versi lebih lawas. Meski demikian, beberapa spesifikasinya sudah diketahui.

Pengguna Xiaomi yang memperbarui antarmuka ke MIUI 8 bisa memindai gambar panjang sambil menggulir layar (scrolling screenshot). Pengguna juga bisa masuk ke dua akun WhatsApp sekaligus dalam satu ponsel.

Advertisements

Bekraf Ingin Setarakan “Startup” di Kota dan Daerah

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyadari adanya ketimpangan informasi dan pengetahuan antara startup kota dan startup daerah. Meski demikian, Bekraf yakin semuanya memiliki potensi sama besar.

Karena itu Bekraf memberi panggung khusus bagi startup daerah untuk turut serta ke ajang dunia “Startup Worldcup” di Silicon Valley pada Maret 2017 mendatang.

Di ajang dunia yang diselenggarakan perusahaan model ventura Fenox VC tersebut, tiga startup daerah menjadi peserta acara. Mereka tak akan berlomba dengan para startup terpilih dari seluruh dunia.

“Startup daerah tak bisa semua langsung dikompetisikan dengan anak Jakarta. Makanya kami bikin roadshow khusus dan yang terpilih dibawa juga ke Silicon Valley,” kata Deputi II Bidang Akses Pemodalan Bekraf, Fadjar Hutomo, Rabu (23/8/2016), usai pengumuman pemenang Startup Worldcup regional Asia Tenggara, di Balai Kartini, Jakarta.

Fadjar berharap pengalaman ke Silicon Valley nantinya bakal memberikan pelajaran berharga bagi startup daerah. Setidaknya, kata Fadjar, startup daerah bisa merasakan suasana kompetisi global dan menerima wawasan baru.

“Di lain kesempatan mereka bisa termotivasi untuk menaikkan level,” ia menuturkan.

Ketiga startup daerah terpilih itu adalah Azzam Trade, Paprika, dan Ojesy. Masing-masing baru memasuki tahap awal merintis usaha digital.

Mereka fokus di sektor berbeda dan disaring melalui proses roadshow ke enam kota, yakni Yogyakarta, Balikpapan, Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar. Pemilihan enam kota itu didasarkan pada pertimbangan potensi daerahnya, apakah ekosistem startup sudah tumbuh baik atau belum.

Tak Peduli Isu Monopoli, Telkomsel Tetap Ekspansi ke Luar Jawa

Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah mengatakan tak peduli dengan isu monopoli Telkomsel di luar Pulau Jawa yang menerpa perusahaan yang dipimpinnya. Ririek berjanji Telkomsel konsisten berekspansi membangun jaringan di di luar Jawa, karena operator lain cenderung lambat.

Sekadar diketahui, sebelumnya Telkomsel dituding memonopoli layanan telekomunikasi di luar Jawa. Alasan tudingan tersebut adalah pangsa pasar operator pelat merah ini di luar Jawa, yang diperkirakan mencapai 80 persen.

“Kalau ada isu monopoli, itu tak menjadi alasan kami untuk berhenti bangun. Akan jadi lama kalau menunggu operator lain masuk (ke luar Jawa),” ujar Ririek dalam peresmian BTS Telkomsel di Kalabahi, Alor, Nusa Tenggara Timur, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Caecilia Mediana, Rabu (24/8/2016).

Baca: Dituding Monopoli di Luar Jawa, Ini Tanggapan Telkomsel

Dia menambahkan, saat ini Telkomsel sudah memiliki lebih kurang 600 base transceiver station (BTS) yang memberikan layanan telekomunikasi di wilayah perbatasan, baik antar negara atau antar propinsi.

BTS di wilayah perbatasan, menurut Ririek, terbagi jadi tiga kategori. Pertama, BTS yang menguntungkan secara bisnis; Kedua, tidak menguntungkan secara bisnis, tapi menguntungkan dalam hal menumbuhkan ekonomi masyarakat setempat; Ketiga, daerah yang tidak menguntungkan sama sekali.

Ririek pun menjamin bahwa Telkomsel berkomitmen menghadirkan layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia.

“(BTS di perbatasan) untuk mendukung aktivitas ekonomi, juga mendukung keutuhan NKRI. Membangun BTS di perbatasan akan lebih banyak daerah yang merdeka secara telekomunikasi,” terangnya.

“Di Alor, ada 250.000 penduduk, kami layani dengan 70 BTS dan tambahkan 2 BTS 4G. Ada mobile BTS yang mudah bergerak dan kami bawa ke Moru (Alor Barat Daya) satu unit,” tegasnya.

Samsung Rilis Z2, “Smartphone” Tizen Rp 900.000-an

Samsung resmi merilis smartphone terbarunya bernama Z2 di India. Perangkat yang satu ini dapat dikatakan cukup unik karena tidak berbasiskan Android, tetapi Tizen.

Z2 sendiri merupakan smartphone ketiga Samsung yang dibekali dengan sistem operasi mobile tersebut.

Samsung memosisikan Z2 dalam kelas low-end. Hal tersebut terlihat dari banderol harga yang relatif murah, yakni 4.590 rupee atau sekitar Rp 926.000.

Secara spesifikasi, ponsel ini lebih bagus dibanding seri Z1 yang lebih dulu meluncur. Namun, tidak lebih baik dibandingkan Z3, yang juga sudah lebih dulu dirilis.

Dilansir KompasTekno dari SamMobile, Rabu (24/8/2016), raksasa teknologi Korea Selatan itu membekali Z2 dengan layar ukuran 3,97 inci, prosesor quad-core Spreadtrum, dan RAM 1 GB. Memori internalnya berkapasitas 8 GB dan dapat diperluas menggunakan kartu memori microSD.

Soal pengabadian gambar, Samsung Z2 memakai kamera utama 5 megapiksel dan kamera depan VGA. Semua spesifikasi tersebut menjalankan sistem operasi Tizen 2.4 dan memakai tenaga dari baterai berkapasitas 1.500 mAh.

Meski tidak dibekali spesifikasi yangg terlalu mentereng, Samsung Z2 sudah mendukung jaringan 4G LTE.

Ponsel Samsung Z2 ini sementara waktu hanya beredar di India dan ditujukan pada pengguna kelas pemula. Belum diketahui apakah Samsung memiliki rencana untuk menghadirkannya di negara lain.

Sekadar diketahui, Tizen merupakan sistem operasi berbasis Linux. Proyek pengembangan Tizen dilakukan antara lain oleh Linux Foundation, Samsung, Intel, dan Technical Steering Group.

Selain ponsel seri Z di atas, Samsung juga telah memasang sistem operasi Tizen pada berbagai perangkat lain, di antaranya Samsung Galaxy Camera dan Gear.

Fujifilm X-T10 Laris di Indonesia berkat Rangga

Alkisah, setelah 12 tahun tidak bersua, Rangga kembali bertemu dengan kekasih lamanya, Cinta. Rangga yang berprofesi sebagai jurnalis di New York, Amerika Serikat, telihat memotret dengan kamera berdesain retro.

Potongan adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta (AAdC 2) yang dirils pada akhir April 2016 lalu itu ternyata efektif mendongkrak kamera yang bersangkutan, yakni mirrorless X-T10 besutan Fujifilm. Setidaknya demikianlah menurut penuturan Sales Manager Photo Imaging Division Fujifilm Indonesia, Wawan Setiawan.

“Popularitas X-T10 terdongkrak setelah dipakai Rangga dalam film AAdC 2 itu, hingga sekarang menjadi produk kamera Fujifilm nomor dua paling laku setelah X-A2 (di Indonesia),” kata Wawan saat mendampingi Kompas Tekno bersama rombongan jurnalis dan fotografer di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (24/8/2016).

Baca: X-T1, Kamera Retro Tahan Cuaca dari Fujifilm

X-T10 mencatat penjualan tertinggi kedua di Indonesia -dari segi volume- walau harganya tidak murah. X-T10 dibanderol di kisaran Rp 11,8 juta untuk versi body only, belum termasuk lensa.

Fujifilm
Fujifiml X-T10
Adapun X-A2 yang menduduki urutan pertama soal penjualan kamera mirrorless Fujifilm, merupakan model entry level dengan harga lebih murah di angka Rp 8 juta, sudah termasuk lensa kit 16-50 mm f/3,5-5,6.

“Kalau untuk kontribusi terbesar dari segi value, yang nomor satu adalah (kamera mirrorless high-end) X-Pro2”, imbuh wawan.

Sebagai salah satu andalan Fujifilm di segmen pasar menengah, X-T10 dibekali fitur lengkap, termasuk sensor 16 megapiksel X-T10, Electronic Viewfinder 2,36 megapiksel, tilting LCD, rangkaian simulasi film ala Fujifilm, kemampuan merekam video hingga resolusi 1920 x 1080 60 FPS, dan Wi-Fi untuk koneksi ke smartphone atau gadget lain.

Fujifilm bukan satu-satunya merek yang melakukan endorsement lewat film AAdC 2. Terdapat juga nama-nama lain dari industri berbeda seperti Lenovo, Line, Aqua, Garuda Indonesia, L
‘Oreal, Mitsubishi, dan Wall’s.

Edit Foto di Prisma Versi iOS Tak Butuh Internet

Mengedit foto dengan aplikasi Prisma, baik di Android maupun iOS, selama ini membutuhkan koneksi internet. Hal tersebut kerap memperlambat proses pengeditan karena bergantung kepada stabilitas jaringan.

Ke depan, pengguna iOS tak perlu lagi merasakan ketidaknyamanan itu. Mereka bisa memodifikasi foto menjadi karya seni bercita rasa tinggi di Prisma dalam keadaan offline.

Hal ini dimungkinkan jaringan saraf tiruan alias neural networks, sebagaimana dilaporkan VentureBeat dan dihimpun KompasTekno, Rabu (24/8/2016).

Jarigan tersebut diambil dari sekelompok pemrosesan kecil yang dimodelkan berdasarkan jaringan saraf manusia. Sistemnya adaptif sehingga dapat cepat mengubah suatu struktur.

Baca: Mengapa Edit Foto di Prisma Lama dan Over Capacity?

Neural networks itu juga menjadi dasar implementasi kecerdasan buatan alias artificial intelligence. Prisma mengindikasikan neural networks bakal menjadi basis aplikasi-aplikasi masa depan.

“Teknologi itu juga bekerja sangat baik untuk audio, tapi sekarang kami fokus pada apa yang kami lakukan dari awal (visual),” kata co-founder dan CEO Prisma, Alexey Moiseenkov.

Sejak diluncurkan pada 11 Juni lalu, Prisma telah diunduh sebanyak 50 juta kali. Versi pembaruan Prisma di iOS ini digadang-gadang sebagai langkah awal merealisasikan filter-filter Prisma di video dan realitas virtual.

Belum diumbar kapan kemampuan pengeditan tanpa internet ini bisa dinikmati pengguna Android. Yang jelas, Prisma mengatakan pembubuhan satu filter di Prisma iOS kini cuma memakan waktu sekitar tiga detik.

Fujifilm Hanya Butuh 5 Tahun untuk Kuasai Pasar “Mirrorless” Indonesia

Fujifilm mulai memasuki pasaran mirrorless dunia -termasuk Indonesia- pada 2011 lewat produk-produk high-end kamera X100 yang memadukan lensa fixed 23mm f/2.0 dengan sensor APS-C.

Awal 2012 pabrikan ini baru mulai merilis mirrorless dengan interchangeable lens (lensa bisa diganti-ganti) yang diawali kamera X-Pro1.

Sebagai pemain yang relatif baru, Fujifilm pun menduduki posisi bontot. “Kala itu, tahun 2011-2012, kami bahkan tak masuk 10 besar pabrikan kamera di Indonesia,” tutur Electronics Imaging Sales Manager Fujifilm Indonesia, Wawan Setiawan, kepada KompasTekno saat ditemui di sela-sela acara photo trip Fujifilm ke Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (24/8/2016).

Tapi kini keadaan tersebut sudah berubah. Hanya dalam tempo 5 tahun, didukung produk-produk lanjutan yang lebih disempurnakan dan kampanye pemasaran agresif, Fujifilm kini berhasil menduduki peringkat pertama di pasaran kamera mirrorles Indonesia.

“Menurut data lembaga riset GFK untuk kuartal pertama 2016, kami berada di urutan teratas dengan pangsa pasar 42 persen,” jelas Wawan. Setelah Fujifilm, pabrikan mirrorless terbesar kedua di Indonesia adalah Sony dengan penguasaan 39 persen.

Update: Berdasarkan informasi terbaru yang diterima redaksi, Fujifilm menduduki peringkat pertama pabrikan kamera mirrorless terbesar di Indonesia pada Juli 2016 dengan pangsa 34,1 persen, menurut data dari firma riset pasar GFK. Berbeda dengan penuturan di atas kepada KompasTekno.

Pabrikan lain seperti Panasonic dan Olympus yang mempelopori kamera mirrorless justru baru muncul di urutan-urutan setelahnya.

Fujifilm kini telah memiliki lini produk kamera mirrorless yang menduduki beragam segmen harga.

Di entry level ada X-A2 dengan harga kisaran Rp 8 juta termasuk lensa kit. Di papan tengah ada Fuji X-E2S dan X-T10, masing-masing dengan banderol Rp 9,8 juta dan Rp 11,8 juta (body only).

Di segmen atas, ada X-Pro2 (Rp 23 juta) dan X-T2 yang baru akan memasuki pasar Indonesia pada akhir September mendatang dengan banderol sekitar Rp 21 juta.

Ada juga produk-produk lain yang masuk kategori berbeda, seperti X30 (premium compact) dan X100T (mirrorless, fixed lens).

Wawan menjelaskan, penjualan kamera mirrorless Fujifilm di Indonesia kini telah menduduki posisi kedua terbesar di kawasan Asia Pasifik, hanya kalah dari Thailand dan sudah lebih tinggi dibanding Singapura.